Laman

Sabtu, 05 Desember 2020

Year-end Performance Review di depan mata. Ini yang harus kamu lakukan | #WeekendProduktif

#WeekendProduktif
bersama Hendri Salim

Happy weekend Streight Face,

Bagi sebagian besar pekerja, proses performance review akhir tahun sudah/akan mulai dilakukan. Proses kali ini boleh jadi yang pertama bagimu di tempat kerja baru, atau bisa juga ada pergantian sistem pengukuran di perusahaan kamu.

Terlepas dari kondisinya seperti apa, hal terburuk yang bisa kamu lakukan adalah melaluinya tanpa persiapan sama sekali. Kamu hanya terdiam dan sesekali mengangguk ketika para pimpinan memberikan penilaian mereka. Kamu meninggalkan ruangan dengan perasaan tidak puas, kesal, dan muncul pikiran untuk bekerja di tempat lain saja.

Kabar baiknya adalah, proses pengukuran kinerja tak perlu berjalan seperti ini.

Akhir pekan ini kita akan membahas apa yang bisa kamu lakukan untuk mempersiapkan dirimu lebih baik lagi.

 

Sebelum performance review dilakukan


Pastikan kamu mengonfirmasi jadwal, karena:
  • Pertama, ini akan memberimu gambaran tentang berapa banyak waktu yang kamu punya untuk mempersiapkan diri, dan 
  • Kedua, konfirmasi jadwal ini sebaiknya dicatat di kalender online, sehingga baik kamu ataupun pemimpin tahu kapan sesi performance review akan berlangsung.
Ingat, kamu juga ingin pemimpinmu mempersiapkan dirinya dengan baik. Jika ada tanda-tanda bahwa yang bersangkutan lupa, atau bahkan tidak menyinggungnya sama sekali, maka kamu bisa mengingatkannya.

Jika memungkinkan, minta terlebih dahulu ulasan performa kamu sebelum sesi pertemuan berlangsung. Memang, tidak semua pemimpin dapat mengabulkan permintaan ini, namun tidak ada salahnya meminta. Jika diberikan, kamu bisa mempersiapkan diri dengan lebih baik.


Persiapkan dirimu


Banyak orang merasa gugup ketika menghadapi performance review, tapi seharusnya hasil dari pengukuran kinerja tidak akan mengejutkanmu. 

Maksud saya, kamu tahu apa yang kamu kerjakan dan bagaimana hasilnya dibanding dengan target yang diberikan selama setahun ini. Jadi, seharusnya kamu kurang lebih sudah mengetahui hasilnya.

Jika kamu benar-benar tidak tahu bagaimana performa kamu, maka ada yang salah dengan caramu bekerja. Apa kamu menggunakan target atau key performance indicator (KPI) yang telah ditetapkan, serta memperhatikan pencapaian kamu dari bulan ke bulan? Jika tidak, ini bisa jadi catatan penting bagi dirimu ke depan.

Yang pertama harus kamu siapkan adalah sebuah cerita tentang apa yang kamu sudah lakukan selama setahun ke belakang. Jangan hanya menyiapkan sederet data dalam bentuk bullet points, tapi buatlah bentuk sebuah cerita atau narasi. Format ini lebih mudah dipahami otak manusia, karena kamu akan menceritakannya kepada atasanmu.

Jadi, daripada menulis seperti ini:
  • Mencapai target bulan Maret - Agustus.
  • Merekrut seorang Social Media Manager.
  • Melakukan penjualan tiket sebanyak 250 tiket lewat media sosial.
Tulislah seperti ini:

Tahun 2020 adalah tahun yang menarik. Kita memulai tahun ini dengan optimistis, lengkap dengan target yang menantang. Namun pandemi mengubah semuanya. Saya awalnya kesulitan untuk beradaptasi karena respons dari pasar juga berubah. Tapi untungnya saya masih bisa mencapai target untuk bulan Maret sampai Agustus.

Ini bisa tercapai karena kita secara cepat melakukan pivot pada strategi media sosial. Saya pun menemukan seorang kandidat luar biasa untuk menggantikan peran Social Media Manager yang mengundurkan diri.

Kita dapat bekerja sama dengan baik dan menjual tiket sebanyak 250 buah selama bulan Agustus. Angka ini adalah peningkatan 45 persen dibanding tahun sebelumnya. Saya memutuskan untuk melakukan hal yang berbeda dengan … (dst)
Sampai sini, kamu harusnya bisa mendapatkan ide besarnya. Tulis cerita tentang dirimu sendiri, seolah-olah kamu sedang mengikuti proses wawancara, dan sang pewawancara bertanya, "Ceritakan kepada kami apa yang kamu lakukan tiga tahun ke belakang."

Menulis cerita ini juga akan membantu kamu membentuk struktur, serta memberimu kesempatan untuk menyorot bagian-bagian penting dan yang paling membuat kamu bangga.

Ini adalah hal penting. Harus diakui, tak semua pemimpin bisa mengingat dengan jelas prestasi kamu. Tugasmu adalah menonjolkan itu dengan cara yang positif. "Jual" diri kamu sendiri dengan elegan.

Jangan lupa untuk menyertakan data dan angka untuk mendukung cerita kamu. Mengatakan "Saya rasa performa saya tahun ini sangat baik," hanya akan membuat bingung. Dari mana kamu bisa mengatakan itu? Apa dasarnya?


Kegagalan juga sebuah pelajaran berharga


Walau saya mengatakan, "'Jual' diri kamu secara elegan," namun jangan lantas melewatkan kegagalan yang kamu alami. Sebutkan kegagalan kamu (serta berikan alasan mengapa kamu gagal) secara jujur. Tak perlu ditutupi atau bahkan menyalahkan orang lain. Jika kamu gagal karena kamu belum mampu pada saat itu, katakan demikian.

Lebih baik lagi, katakan bahwa setelah kejadian tersebut, kamu mempelajari 1-2 hal, serta sudah mempersiapkan diri agar hal tersebut tidak terulang lagi. Tentu saja pastikan pernyataan ini bukan hanya omong kosong. Kamu seharusnya memang melakukan hal ini. Jika memang kamu lakukan, jangan ragu untuk mengakuinya.

Setelah kamu menuliskan ceritamu dalam setahun ke belakang, lanjutkan dengan apa yang akan jadi cerita kamu di tahun selanjutnya. Orang-orang terbaik adalah mereka yang tahu apa yang menjadi kesalahan masing-masing, belajar dari kegagalan, serta mulai merencanakan langkah selanjutnya. Tunjukkan hal tersebut di cerita yang kamu buat.

Terakhir, pastikan kamu juga mengidentifikasi apa yang kamu inginkan di tahun mendatang. Kenaikan gaji? Pergantian tanggung jawab? Mencoba hal baru? Pikirkan ini dalam-dalam selama 1-2 hari, lalu tulis secara detail dan berikan alasannya mengapa kamu menginginkan hal tersebut. Ini akan membantu kamu mengenali dirimu sendiri.


Untuk apa cerita ini saya buat?


Pertama, ini berfungsi jadi sebuah catatan untuk dirimu. Kamu melakukan introspeksi terhadap kinerjamu. Kamu bisa mengetahui apakah sudah bertumbuh atau tidak dengan cara membaca ceritamu sendiri.

Kedua, kamu juga biasanya akan mendapatkan kesempatan untuk menanggapi hasil performance review terhadap kinerjamu. Gunakan kesempatan ini untuk menceritakan tentang diri kamu selama setahun ke belakang. 

Mungkin ini tak akan mengubah hasilnya. Namun jika kamu membawakan dirimu dengan baik, maka pandangan pemimpin kamu bisa jadi berubah, and it goes a long way.


Hari pengadilan tiba


Pertama-tama, jangan beri beban berlebih pada dirimu. Jangan memulai proses performance review dengan perasaan waswas. Apa gaji saya akan naik? Berapa besar kenaikannya?

Saya paham bahwa kita bekerja untuk mendapatkan uang. Namun ada banyak hal lain yang juga tidak kalah berharga, seperti personal development atau perasaan menyenangkan ketika tahu sudah berkontribusi.

Performance review bisa kamu gunakan sebagai alat evaluasi terhadap dirimu sendiri. Kamu ingin melakukan lebih, berkontribusi lebih, atau ingin mengembangkan skill dengan lebih pesat lagi. Jika demikian, maka terimalah performance review sebagai salah satu cara untuk mengetahui apa yang bisa kamu tingkatkan.


Panah sudah dilepaskan


Jika proses performance review berjalan lancar dan kamu mendapatkan standing ovation, maka selamat! Namun jika yang terjadi adalah sebaiknya, kamu perlu mengendalikan diri.

Saya masih ingat performance review pertama saya sepuluh tahun lalu. Saya keluar ruangan dengan penuh kekecewaan dan emosi. Jika saya bisa bertemu lagi dengan diri saya sepuluh tahun yang lalu, saya akan meledeknya, "Hendri, you silly boy!"

Ketika keadaan sudah memanas, atau tidak sesuai yang kamu harapkan, ingat untuk tetap positif. Kita cenderung masuk mode defensif ketika ada serangan. Ini hal yang wajar, tapi coba pikirkan sebentar. Apa saya sehebat itu, sehingga tak ada satu pun kritik dari pemimpin saya yang benar?

Kemungkinan besarnya adalah, tidak semua yang dikatakan pemimpin kamu benar. Namun ini juga berarti ada probabilitas besar bahwa kritik dan ulasan yang disampaikan pimpinan ada benarnya. 

Tentu saja, ini bukan berarti kamu hanya bisa mengangguk setuju. Itulah mengapa sejak awal kita sudah membuat cerita selama setahun yang didukung dengan data. Pemimpin kita juga manusia, ia tidak sempurna. Tugas kita adalah menjaga performance review ini tetap adil untuk kedua belah pihak. 

Ketika kamu tidak setuju, jangan berubah ke mode defensif. Masuklah ke mode responsif. Misalnya dengan memberi tanggapan seperti ini:

Saya setuju dengan Bapak ketika skill analisis saya dinilai kurang, hingga salah menghitung bujet marketing. Saya menyadari itu ketika menghabiskan terlalu banyak uang di channel promosi dengan ROI yang kecil. Itulah mengapa setelahnya, saya langsung mengambil kelas pengolahan data dan mulai melihat ROI dari masing-masing channel.

Saya pada akhirnya mengidentifikasi channel dengan performa yang baik, serta mengalokasikan bujet lebih. Ini membuat penjualan tiket di bulan Agustus naik 40 persen dibanding tahun lalu. 

Saya menyayangkan kesalahan yang saya lakukan, tapi saya belajar banyak. Sekarang performa tim marketing sudah mulai kembali ke target awal. Bahkan, kita berhasil menutup bulan ini dengan pencapaian 5 persen lebih tinggi dari target. Ini pelajaran berharga yang akan saya selalu ingat.


Tentu saja saya mengarang cerita di atas. Terlalu sempurna jika benar-benar terjadi. Namun kamu seharusnya mendapatkan inti ceritanya. 

Ini juga bisa jadi pengingat. Ketika melakukan kesalahan, lakukan analisis apa yang jadi sumber masalahnya, perbaiki, lalu bentuk sebuah sistem agar hal itu tak terjadi lagi. Tahun depan, jika kamu melakukan kesalahan, kamu benar-benar bisa menceritakan cerita di atas.


Jika kamu punya kesempatan balas dendam


Maksud saya, jika kamu punya kesempatan untuk memberikan feedback kepada pimpinan, maka lakukan itu dengan profesional. Ini bukan ajang balas dendam. Ingat, jika kamu ingin dipimpin dengan baik, maka kamu harus memberikan feedback untuk membantunya jadi pemimpin yang lebih baik. 

Kamu bisa menceritakan tentang alur kerja yang tidak efektif dan mengganggu kamu, sampai dengan hal yang sebaiknya jangan lagi ia lakukan. "Jika sudah menetapkan deadline, tolong jangan tanya saya setiap tiga jam, 'Sudah selesai apa belum?'"

Supaya kesempatan langka ini bisa kamu manfaatkan dengan optimal, ada baiknya kamu sudah menuliskan sebelum hari H. Jika tidak, kamu hanya akan menjawab. "Tidak ada, Pak/Bu." 

Jika ini yang terjadi, kamu bakal meninggalkan ruangan dengan penyesalan karena sebenarnya punya 78 feedback yang tak tersampaikan. Di sisi lain, sang pemimpin dalam hati akan merasa bangga karena gaya manajemennya tampak berfungsi dengan baik.


When things got ugly, I mean really ugly


Menurut riset dari Adobe: 
  • 22 persen orang menangis setelah mendengar performance review
  • 37 persen langsung mulai mencari pekerjaan lain, dan
  • 20 persen langsung mengundurkan diri.

Adobe, kamu tidak salah. Saya sendiri ingin berhenti bekerja ketika hasil performance review pertama saya keluar.

Tapi fast forward sepuluh tahun kemudian, saya menyadari bahwa ada beberapa hal yang sebaiknya jangan diambil hati. Bahasa kerennya, "Don't take it personally."

Pekerjaan memang jadi bagian besar dari hidup kita. Namun pada akhirnya, kamu dipekerjakan untuk melakukan sesuatu dengan imbalan gaji. Ini adalah sebuah bisnis.

Ketika hasil evaluasi kamu jelek di sebuah bagian, tanya secara detail bagian apa yang kurang dari kinerjamu, serta apa yang kamu bisa lakukan untuk memperbaikinya di masa mendatang. Ini akan menyetir arah pembicaraan dari pembantaian sepihak ke arah yang lebih spesifik, terukur, dan positif. 

Tentu saja, jangan lupa untuk mencatatnya dan baca lagi dalam tiga bulan ke depan. Kamu akan tahu apa kamu bergerak ke arah yang lebih baik atau tidak.


Setelah kamu selesai dengan performance review


Pertama, buatlah sebuah rencana untuk mengatasi kekurangan kamu yang sudah dibahas sebelumnya. Buat rencana spesifik bagaimana kamu akan mengatasi kekurangan tersebut, baik dengan membaca buku, ikut kelas online, sampai mencari mentor untuk mengajarimu.

Pastikan kamu juga membuat timeline dan jadwal, sehingga rencana kamu benar-benar terukur.

Selain itu, pastikan juga kamu mengerti arah perusahaan di tahun depan, target apa yang kamu harus capai, serta apa yang jadi KPI kamu. Pastikan bahwa seluruh usaha kamu selaras dengan target perusahaan secara keseluruhan. 

Misalnya, kamu bertanggung jawab terhadap media sosial dan ads spending (pengeluaran atas iklan). Cari tahu berapa target penjualan, serta berapa banyak yang harus disumbang dari iklan. Cari tahu cara mengukurnya, sehingga penjualan yang terjadi bisa kamu ukur sebagai pencapaian divisi Social Media dan Digital Marketing.

Terlalu berat untuk akhir pekan?

Mungkin, tapi setidaknya sekarang kamu sudah bisa mulai mempersiapkan dirimu. Tahun depan, performance review tidak perlu jadi menakutkan lagi.

Enjoy your weekend!

Salam,
Hedri Salim
CEO Tech in Asia Indonesia

 

Hai, terima kasih sudah membaca email mingguan Weekend Produktif sampai habis. Kamu punya komentar positif untuk tulisan ini? Kamu bisa langsung balas email ini, atau mengisi form komentar.

Semua tulisan Weekend Produktif saya bisa kamu temukan di situs web Tech in Asia Indonesia.

Tidak ingin menerima email dari kami lagi? berhenti berlangganan newsletter (kami bakal sedih!)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar