Laman

Sabtu, 14 November 2020

Hal yang perlu kamu tanyakan saat wawancara kerja

#WeekendProduktif
bersama Hendri Salim

Happy weekend Streight Face,

Sebelum mengakhiri sesi wawancara dengan kandidat karyawan, saya selalu mengucapkan pertanyaan ini, "Ada yang kamu mau tanya kepada kami?" Sebagian besar kandidat akan diam sebentar, lalu mengatakan, "Tidak ada. Semuanya sudah jelas."

Dalam hati, saya berteriak, Tidak! Ini belum jelas! Kenapa kamu tidak bertanya mengenai apa yang bakal jadi tantanganmu selama 3 atau 6 bulan pertama bekerja nanti? Mengapa kamu tidak menanyakan keadaan tim yang akan bekerja bersamamu setiap hari? Kamu benar-benar tertarik dengan pekerjaan ini atau tidak sih?!

Namun tentu saja saya tetap tersenyum dan mengatakan, "Oke, mantap. Kami akan hubungi kamu lagi nanti."

Nyatanya, sebagian besar kandidat yang saya wawancara tidak lolos ke tahap rekrutmen selanjutnya.

Ini seperti mengajak gebetan untuk pergi jalan. Kamu bertanya apakah ia sesekali mau pergi jalan bareng. Ia menjawab oke, dan kamu berdua terdiam. Ia tidak bertanya kapan, ke mana, atau jam berapa. Kamu juga bingung, apa ia benar-benar tertarik untuk jalan bareng atau tidak.

Sesi awal sebuah wawancara biasanya digunakan perusahaan untuk mengenalmu. Ketika kamu ditawarkan kesempatan untuk bertanya, ini berarti saatnya kamu mengenal calon perusahaan.

It takes two to tango.

Pertama-tama, jangan pernah merasa bahwa banyak bertanya akan membuat kamu terlihat buruk. Ini sama sekali tidak benar, yang terjadi adalah kebalikannya. Kebanyakan pewawancara akan ragu akan niatmu melamar kerja ke perusahaannya jika kamu sama sekali tidak bertanya.

Tapi ya, tentu saja jangan menanyakan pertanyaan dasar yang seharusnya kamu sudah riset sebelumnya.

"Kapan perusahaan ini didirikan?" Apa gunanya menanyakan hal ini? Lagi pula, kamu bisa mengecek situs web perusahaan untuk mendapatkan informasi tersebut.

"Apa peran saya nanti di perusahaan ketika bergabung?" Hah? Apa kamu sudah membaca deskripsi lowongan kerja yang kamu lamar? Seharusnya ini sudah cukup jelas.

"Apa saya akan melapor langsung kepada Anda?" Sebenarnya ini pertanyaan yang cukup bagus. Kita akan bahas nanti.

Pertanyaan terbesarnya adalah, apa yang harus saya tanyakan ketika sesi wawancara berlangsung?

Ini adalah pertanyaan yang bagus. Izinkan saya membantumu dengan beberapa pertanyaan penting yang seharusnya ditanyakan.
 

Apa yang akan jadi tantangan saya dalam jangka pendek dan panjang?


Kamu mungkin bertanya, "Apa yang akan saya kerjakan sehari-hari?" Ini adalah pertanyaan standar, tapi sebenarnya job title sudah cukup menjelaskannya. Social Media Manager kurang lebih akan berperan mengelola akun-akun media sosial. Hampir tidak mungkin Social Media Manager diminta membuat laporan keuangan perusahaan.

Pertanyaan yang lebih masuk akal adalah, "Apa yang akan jadi tantangan saya dalam jangka pendek dan panjang?"

Setiap perusahaan punya masalah berbeda-beda. Mereka merekrut kamu untuk memecahkan masalah ini. Dengan bertanya demikian, kamu akan mendapatkan gambaran tentang apa yang harus diselesaikan dalam waktu dekat dan secara jangka panjang.
 

Seperti apa culture perusahaan di sini?


Sekali lagi, kebanyakan perusahaan memiliki culture statement di situs web masing-masing. Baca terlebih dahulu itu, lalu mulailah dengan membuka pertanyaan seperti, "Saya membaca bahwa X, Y, Z jadi culture perusahaan. Bisakah kita membahas ini lebih detail? Saya ingin tahu apa yang sebenarnya dimaksud dengan X."

Ini akan menunjukkan bahwa kamu telah melakukan riset dan bukan sekadar menebar CV. Namun poin terpentingnya adalah menentukan apakah kultur perusahaan yang kamu lamar sesuai dengan harapanmu.

Ketika mereka menyebutkan kultur transparansi, tanya apa contoh kasus nyatanya.
 

Untuk orang-orang yang bisa disebut berhasil atau memiliki performa tinggi di perusahaan ini, apa yang jadi faktor pembeda mereka?


Saya pribadi merasa ini adalah pertanyaan paling menarik, dan jawabannya akan sangat bergantung pada siapa kamu bertanya. Sebaiknya utarakan pertanyaan ini kepada calon atasan langsung kamu.

Jawabannya kurang lebih akan memberimu sedikit gambaran tentang bagaimana calon atasan kamu membedakan pegawai dengan performa baik dan buruk.

Jika lawan bicara kamu kurang mengerti pertanyaan ini, maka ia mungkin akan menjawabnya dengan, "Ya mereka yang melakukan pekerjaan dengan sesuai dan cepat adalah yang akan berhasil di perusahaan ini." Dari kalimat ini saja, kamu sudah bisa menilai bagaimana karakter dari calon pemimpin kamu.

Tapi kamu juga mungkin mendapatkan respons seperti ini,

"Itu adalah pertanyaan yang sangat menarik. Belum pernah ada yang bertanya itu kepada saya. Seperti yang kamu tahu, perusahaan kami baru berdiri selama setahun lebih, jadi tantangan kami adalah membuktikan produk kami dibutuhkan pasar. Mereka yang memiliki performa tinggi adalah yang bisa mengerti ini, melakukan perubahan, serta beradaptasi terhadap kebutuhan pengguna kami.

"Terkadang kami harus menghentikan apa yang sudah dikerjakan selama tiga bulan terakhir, karena data menunjukkan bahwa produk itu bukan yang dibutuhkan para pengguna kami. Jadi setiap orang dituntut untuk dapat berubah cepat, dan tidak terlalu sedih ketika ini terjadi."

Tentu saja ini adalah jawaban yang ideal. Kenyataannya kamu akan mendapatkan jawaban beragam. Tapi dari sini kamu akan punya informasi lebih untuk dipertimbangkan.
 


Jika saya gagal dalam masa probation, kira-kira apa yang jadi penyebabnya?


Ini sebenarnya cukup mirip dengan pertanyaan sebelumnya. Jika kamu tanya kepada orang yang tidak mengerti bagaimana menjawabnya, maka kamu bisa mendapatkan respons seperti, "Ya karena kamu tidak mengerjakan apa yang kami minta."

Tapi kamu mungkin beruntung dan mendapatkan respons seperti, "Jelas kami menilai kamu dari hasil pekerjaanmu. Namun kami juga mempertimbangkan faktor-faktor lain, seperti bagaimana adaptasi kamu terhadap culture perusahaan. Kami pernah mempekerjakan karyawan baru  yang punya performa cukup baik, tapi kami kesulitan berkomunikasi dengannya. Kami juga tidak melihat adanya perkembangan dalam tiga bulan, sehingga kami memutuskan untuk tidak mengangkatnya jadi karyawan tetap."

Sekarang kamu tahu apa yang menjadi ekspektasi mereka di masa probation kamu.
 

Apa yang jadi metrik utama perusahaan, dan bagaimana saya atau tim saya berkontribusi kepada metrik tersebut?


Salah satu hal menyedihkan ketika bekerja adalah tidak tahu bagaimana pekerjaanmu berkontribusi kepada perusahaan, baik langsung atau tidak langsung. Sekarang kamu punya kesempatan untuk bertanya di awal.

Di sini kamu juga bisa melihat apakah mereka punya rancangan jelas tentang posisi atau KPI (Key Performance Indicator) yang ditetapkan. Jika kamu bisa mengerti dengan jelas kontribusi pekerjaanmu terhadap perusahaan, maka kamu tahu bahwa ini adalah permulaan yang baik.
 

Apakah Bapak/Ibu akan jadi atasan langsung saya?


Kamu bisa menanyakan hal ini di akhir sesi untuk menutup proses wawancara. Walau terdengar seperti pertanyaan sederhana, tapi ini cukup penting. Kamu akan menghabiskan banyak waktu dengan atasanmu. Baik kamu ataupun calon atasanmu harus bisa bekerja sama dan cocok dari segi karakter.

Memang sulit untuk menentukan ini lewat sesi wawancara selama 30-60 menit. Namun setidaknya kamu bisa mendapatkan gambaran besarnya.

Tanya diri kamu sendiri di akhir sesi wawancara, apakah orang ini akan cocok untuk jadi atasan saya?

Jika ternyata si pewawancara bukanlah atasan langsung kamu nanti, maka ini bisa jadi sebuah peringatan untukmu. Normalnya, calon atasanmu seharusnya mewawancara kamu secara langsung.

Kamu mungkin suka culture perusahaan dan karakter orang yang ada di hadapanmu. Tapi jika kamu tidak bertemu atasan langsungmu, maka karakter atasanmu nanti bisa benar-benar berbeda.

Ini yang terjadi di pekerjaan pertama saya. Saya berangkat dari Bandung ke Jakarta untuk menghadiri wawancara. Sesampainya di lokasi, calon atasan langsung yang harusnya mewawancara saya sedang keluar untuk menemui klien. Karena saya sudah menghabiskan waktu 3,5 jam untuk perjalanan ke Jakarta (dan butuh waktu tambahan 3,5 jam untuk pulang nanti), akhirnya saya diwawancara langsung oleh direktur perusahaan tersebut.

Saya suka culture perusahaan itu dan pembawaan dari sang direktur. Jadi ketika mereka menawarkan saya posisi tersebut, saya mengatakan ya. Untungnya setelah bergabung, saya mendapatkan atasan yang punya kepribadian menyenangkan. Tapi ini adalah sebuah keberuntungan, dan mungkin tidak akan terjadi lagi.

Jika selama proses wawancara calon atasan langsungmu tidak pernah hadir, maka saya sarankan agar kamu sangat berhati-hati sebelum memutuskan untuk menerima tawaran kerja.
 

Jelas ada banyak pertanyaan lain yang juga bagus dan sebaiknya kamu tanyakan. Kamu bisa melakukan googling dengan kata kunci "what to ask during interview". 

Yang ingin saya tekankan adalah, gunakan kesempatan bertanya dengan maksimal. Ini kesempatan kamu untuk mengenal perusahaan, serta menunjukkan bahwa kamu memang peduli dan tertarik dengan pekerjaan tersebut.

Have a great weekend!

Salam,
Hendri Salim
CEO Tech in Asia Indonesia
Hai, terima kasih sudah membaca email mingguan Weekend Produktif sampai habis. Kamu punya komentar positif untuk tulisan ini? Kamu bisa langsung balas email ini, atau mengisi form komentar.

Semua tulisan Weekend Produktif saya bisa kamu temukan di situs web Tech in Asia Indonesia.

Tidak ingin menerima email dari kami lagi? berhenti berlangganan newsletter (kami bakal sedih!)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar