| Halo Streight Face, Cari investor itu sepertinya mirip-mirip seperti mencari pasangan hidup. Baik investor maupun startup harus punya kesamaan visi, misi, dan tujuan. Contohnya, kalau kamu punya startup yang berorientasi pada social impact, pastikan investor yang kamu incar juga setuju dengan misi ini. Beruntung, artikel eksklusif dari kami bisa membantu kamu menemukan investor yang tepat juga. Simak selengkapnya rangkumannya di bawah. — Ekky, Tech in Asia | | Impact investor: solusi pendanaan buat startup yang fokus pada social impact Startup dengan misi social impact punya tugas ekstra. Selain memikirkan pendapatan, mereka juga perlu memikirkan dampak positif yang bisa mereka berikan untuk masyarakat sekitar. Sayangnya, tidak semua investor menyukai pendekatan ini. Kata kuncinya ada pada kata tidak semua. Untungnya, masih ada beberapa instansi yang menyebut diri mereka impact investor, yaitu badan yang tidak hanya fokus mengukur dari aspek valuasi dan profitabilitas perusahaan, tetapi juga dari capaian positif yang dibawa perusahaan untuk masyarakat sekitar. Pertanyaannya: bagaimana strategi mendekati impact investor ini? Ada beberapa hal yang mesti kamu tahu: - Menilai lewat berbagai metrik: para impact investor ini umumnya mengacu pada laporan standar internasional, seperti Sustainable Development Goals (SDG) dan Environmental, Social and Governance (ESG).
- Minat yang meningkat: Laporan dari ANGIN di tahun 2020 mencatat ada 120 pendanaan berdampak sosial sejak 2013. Sebanyak 83 di antaranya murni datang dari impact investor.
Penasaran dengan beberapa strategi yang bisa kamu gunakan untuk menarik minat para impact investor ini? Simak selengkapnya lewat artikel eksklusif untuk pelanggan Tech in Asia ID+. | | Bagaimana perkembangan kondisi ekosistem startup di Vietnam sekarang? Tahun 2019, iklim startup Vietnam punya kemiripan dengan Indonesia 4-5 tahun yang lalu. Iklim pendirian usahanya yang mendukung, perkembangan produk yang tak kalah bagus, dan ongkos pembiayaan yang murah. Nggak heran, banyak yang menganggap Vietnam sebagai pasar yang ideal untuk mendirikan bisnis dan melakukan ekspansi. Justin Nguyen dari Monk's Hill Ventures, Tran Hai Linh (CEO, Sendo Technology JSC), dan COO GHN & AhaMove Hang Do berbagi insight terhadap situasi di sana terkini pada acara Tech in Asia Conference 2020 Virtual yang diadakan tahun lalu. Beberapa hal yang mereka bicarakan: - Kelebihan (dan kekurangan) dalam ekosistem startup Vietnam.
- Apa saja kiat yang harus diketahui pelaku startup maupun investor awam saat hendak menjaring peluang di negara ini.
- Sudut pandang pemain terhadap kompetitor regional dan kebutuhan atas talenta dari negara Asia lainnya.
- Ekpektasi terhadap situasi perkembangan startup dan investasi di Vietnam ke depannya.
Rekaman ulang event ini (dan video TIA Conference lainnya) bisa kamu saksikan sekarang juga. | | | Setiap bulannya pemilik akun gratis Tech in Asia Indonesia berkesempatan untuk membaca satu artikel premium pilihan kami. Baca gratis artikel di bawah atau lihat artikel premium lainnya. | | E-commerce asal Korea Selatan ajukan IPO di Amerika Serikat - Perusahaan e-commerce asal Korea Selatan Coupang Corp mengajukan penawaran saham perdana (IPO) kepada Securities and Exchange Commission (SEC) pada tanggal 13 Februari lalu.
- Langkah IPO Coupang diperkirakan bakal terlaksana pada kuartal kedua 2021.
- Dalam dokumen pendaftaran yang diajukan kepada SEC, Coupang mencatatkan pendapatan bersih pada 2020 sebesar US$12 miliar, atau meningkat hampir dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.
TikTok India berencana dijual ke kompetitor - Ketegangan politik Cina dan india yang mengakibatkan media sosial tersebut diblokir permanen mebuat Bytedance berencana menjual aset-asetnya kepada Glance, kompetitor di India.
- Upaya penjualan aset ini juga disebut sebagai upaya Softbank menyelamatkan platform berbagi video pendek milik TikTok dari hambatan regulasi yang diterapkan pemerintah setempat.
Spotify keluarkan kebijakan karyawan bebas bekerja di mana saja - Lewat kebijakan baru ini, Spotify bakal membebaskan karyawannya memilih untuk bekerja di kantor maupun di rumah, bahkan setelah pandemi COVID-19 berakhir.
- Beberapa perusahaan teknologi digital besar lain, seperti Facebook, Apple, Amazon, dan Google sudah lebih dulu mengadopsi kebijakan tempat kerja fleksibel ini.
| | - [Berbayar] Tech in Asia PDC'21 Virtual
Pelajari cara mengembangkan produk yang berorientasi pada hasil dari kalangan profesional. Dapatkan tiket early-bird dengan diskon 70% di sini. - [Gratis] Fintech Forum with AWS
Konferensi setengah hari yang membantu kamu mendapatkan insight tren terdepan berbagai teknologi yang merevolusi fintech. Daftar di sini. | | Terima kasih karena kamu sudah baca sampai habis. Newsletter ini dibuat dengan cinta (dan sedikit kafein) oleh tim marketing Tech in Asia Indonesia. Sampaikan kritik, saran, dan komentar kamu seputar newsletter kami lewat form ini. Jangan sampai ketinggalan berita harian seputar industri startup Indonesia. Simpan email indonesia@techinasia.com ke kontakmu, atau pindahkan email ini ke primary inbox. Tidak ingin menerima semua email dari kami lagi? Kamu bisa berhenti berlangganan newsletter (tentunya kami bakal sedih!) | | | | |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar