| Happy weekend , Streight Face! Tepat setelah saya selesai menulis newsletter untuk minggu ini, saya memutuskan untuk menunda penerbitannya di lain waktu. Saya rasa ada momen lain yang lebih tepat untuk menerbitkan newsletter tersebut. Namun ini juga berarti saya harus menulis sebuah newsletter baru. Tak masalah. Kejadian seperti ini bukan yang pertama kali saya alami. Tiga puluh menit kemudian, saya masih tak tahu harus menulis apa. Saya sebenarnya sudah punya jadwal menulis tentang topik apa di tanggal berapa. Saya pun sebisa mungkin tak ingin mengubah jadwal tersebut. Lima belas menit selanjutnya, saya masih menatap layar kosong. Di mana inspirasi ketika saya membutuhkannya? Saat saya sudah sangat nge-blank seperti ini, saya memutuskan untuk mencari cara mendapatkan inspirasi. Saya mendapatkan banyak sekali hasil ketika mengetikkan "cara mendapatkan inspirasi" di Google. Rata-rata menyarankan untuk mendengarkan musik, membaca buku, hingga melakukan meditasi. Tapi saya masih kurang puas dengan saran-saran tersebut. Jika kamu sering membaca newsletter saya, kamu akan tahu bahwa saya selalu berusaha mencari justifikasi lewat sains. Tapi apakah inspirasi masuk ranah sains? Bagaimana cara mengukur inspirasi? Untungnya, saya menemukan hasil riset yang dilakukan oleh Thrash dan Elliot dari University of Rochester. Mereka melakukan studi khusus mengenai inspirasi, serta bagaimana cara mendapatkan inspirasi berdasarkan sains. Tiba-tiba saya terinspirasi untuk menulis newsletter tentang inspirasi. Pertama, inspirasi perlu dipisahkan dengan definisi lain yang sejenis, misalnya kreativitas. Trash dan Elliot menyebut inspirasi memiliki tiga karakteristik utama yaitu: - Evocation,
- Transcendence, dan
- Approach motivation.
Evocation berarti inspirasi datang secara tiba-tiba, bukan karena ada usaha khusus dari seseorang. Ini berarti orang itu tak bertanggung jawab atas inspirasi yang datang. Inspirasi datang karena adanya objek stimulus, seperti orang, ide, atau karya seni. Selama terinspirasi, orang tersebut akan mendapatkan kesadaran baru yang tidak dibatasi oleh keadaan maupun pengetahuan orang tersebut(transcendence). Kesadaran baru ini adalah sesuatu yang jelas dan nyata. Setelah mendapatkan inspirasi, orang itu akan mendapatkan motivasi (approach motivation) untuk membuat inspirasi tersebut jadi nyata--atau setidaknya membagikan apa yang jadi visi barunya. Tiga karakter inilah yang membedakan inspirasi dengan pengalaman atau perasaan lainnya. Thrash dan Elliot juga membuat skala inspirasi yang mengukur frekuensi dan intensitas, untuk kemudian digabungkan menjadi sebuah Inspiration Scale (IS). Yang menarik dari riset mereka adalah, orang-orang yang berpartisipasi dalam riset dan memiliki IS dengan skala tinggi (berarti sering mendapatkan inspirasi) memiliki beberapa kesamaan: - Mereka lebih terbuka kepada sebuah pengalaman, baik itu pengalaman baru atau lama. Mereka juga lebih terserap ke dalam apa yang mereka kerjakan. Mereka benar-benar mendalami pekerjaan tersebut, bukan sesuatu yang dikerjakan tanpa berpikir dan berlalu begitu saja.
- Mereka cenderung termotivasi karena dorongan dalam diri, bukan karena mengharapkan penghargaan dari luar.
- Mereka melihat sebuah objek yang dapat menginspirasi dengan sudut pandang subjektif, bukan secara objektif. Sebagai contoh, sebuah ukiran kayu cenderung menginspirasi lebih banyak orang yang menilai benda tersebut secara subjektif terhadap dirinya sendiri, bukan mengukur dari tipe kayu yang digunakan, teknik apa yang dipakai, atau siapa yang mengukirnya.
- Mereka yang cenderung fokus terhadap apa yang dikerjakan, serta membangun keahlian di bidang tersebut, cenderung mendapatkan inspirasi lebih banyak. Menandakan bahwa inspirasi bukan sesuatu yang seratus persen bersifat pasif. Mereka yang punya pikiran lebih terasah cenderung lebih sering terinspirasi.
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar