Happy weekend Streight Face, Ada suatu titik dalam kehidupan profesional saya, di mana saya merasa jadi seorang penunda (procrastinator). Bahkan, saya bisa bilang bahwa saya adalah penunda profesional. Jika ada batas waktu, saya lebih memilih untuk memanfaatkan semua waktu yang ada. Bila ada begitu banyak tugas, saya condong untuk mengerjakan beberapa tugas yang bisa selesai dalam 2-4 menit terlebih dahulu. Atau jika sudah sangat mumet, saya bakal menarik diri dari kursi kerja, menyalakan PlayStation 4, dan menyegarkan pikiran dengan beberapa pertandingan di Tekken 7. Kadang kala, saya merasa tidak seharusnya melakukan ini. Penundaan-penundaan ini membuat saya merasa jadi bukan orang yang produktif. Proses penulisan draf newsletter ini pun sebenarnya saya tunda, dari yang seharusnya kelar Jumat kemarin namun baru saya tuntaskan Sabtu pagi. Tentu saja, saya secara aktif mencari jalan keluar. Saya mengetik bagaimana cara untuk berhenti menunda di Google, serta menyimak semua yang bisa saya baca. Beberapa tip saya coba praktikkan. Namun secara alamiah, saya masih menunda sampai sekarang. Akhirnya, saya memutuskan untuk menerimanya saja. Saya adalah seorang penunda profesional, dan saya masih bisa hidup dengan kebiasaan ini. Apa yang membuat saya yakin adalah ketika melihat ke belakang, penundaan yang saya lakukan sering kali berujung positif. Ada cukup banyak keputusan yang saya ubah di menit terakhir—karena sengaja saya tunda—ternyata terbukti jadi keputusan tepat. Ada juga tugas di to-do list yang sudah menjamur lebih dari delapan bulan. Jika saya lihat sekarang, tugas tersebut memang pantas ditunda, atau bahkan dihapus karena ternyata tidak pantas dilakukan. And hey ... saya masih bisa hidup dan memiliki pekerjaan saya. Seiring waktu ini membuat saya penasaran, apa penundaan benar-benar punya efek positif? Setelah melakukan riset, ternyata ada beberapa artikel serta penelitian yang mendukung pengalaman saya. Biar saya bagikan untuk kamu akhir pekan ini. Pertama-tama, jika seseorang menunda pekerjaannya secara tidak sadar (seperti membuka YouTube atau Facebook ketika ada pekerjaan penting di depan mata) maka mereka termasuk penunda pasif. Orang-orang tipe ini menunda pekerjaan karena tugas di depan mata membuat mereka merasa takut, resah, atau sangat malas menyelesaikannya. Di sisi lain, penunda aktif dengan sengaja memilih untuk bekerja di lingkungan yang menantang. Namun mereka memutuskan—secara sengaja dan penuh kesadaran—untuk tidak melakukan sebuah tugas yang ada di depan mata. Penunda aktif dan pasif sama-sama menunda. Namun, yang menarik, riset menunjukkan performa penunda aktif sama dengan orang yang tidak menunda. Bahkan terkadang lebih baik. | | Mengapa ini bisa terjadi? Ketika seorang penunda aktif memutuskan untuk mengerem dan melanjutkan pekerjaan pada lain waktu, ia menggantinya dengan kegiatan lain yang juga sama efektifnya, atau bahkan lebih efektif. Ia punya kemampuan untuk mengenali tugas yang pantas untuk ditunda. Instingnya mengatakan bahwa sebaiknya suatu pekerjaan tidak langsung dilakukan. Tentu saja ini datang dari pengalaman dan latihan, jadi siapa saja dapat mengembangkannya seiring waktu. Ketika ada sebuah keputusan berat yang harus diambil di minggu depan, seorang penunda aktif bisa menghabiskan dua hari pertama melakukan hal lain yang mungkin tak ada hubungannya. Tapi selama melakukan hal lain ini, ia terus mengingat apa yang jadi tugas besarnya di minggu depan. Keadaan bisa berubah selama masa penundaan. Informasi baru mungkin muncul, dan begitu juga dengan ide baru. Hal-hal seperti ini yang digunakan penunda aktif untuk mengambil keputusan dan bertindak. Sekarang bandingkan dengan penunda pasif. Ia akan cenderung memblokir diri dari keputusan atau kegiatan yang harus dilakukan selama mungkin. Mereka tidak memikirkannya secara aktif. Dalam prosesnya, ia melakukan hal lain yang malah tidak produktif. Penunda aktif secara sadar mengambil waktu sebelum mengerjakan sesuatu. Di saat bersamaan, ia masih punya kesadaran tentang berapa lama waktu yang dimilikinya, serta apakah sisa waktu yang ada masih cukup untuk menuntaskannya. Penelitian yang dilakukan oleh Universitas Columbia dan Universitas McGill juga menunjukkan bahwa penunda aktif punya motivasi dan hasil yang lebih tinggi ketimbang penunda pasif. Penunda aktif memanfaatkan penundaan sebagai sebuah tool produktivitas. Saya percaya kamu juga punya cerita bagaimana penundaan malah membawa hasil yang lebih baik. Tapi ingat, bahwa tidak semua hal baik untuk ditunda. Saya pribadi juga punya banyak kisah bagaimana penundaan yang saya lakukan membawa dampak buruk. Sebagian besar memang terjadi karena saya tunda secara pasif, bukan secara aktif. Coba perhatikan diri kamu minggu depan. Ketika kamu menunda, apakah kamu menundanya secara pasif atau aktif? Sekian newsletter hari ini. Tetap jaga kesehatan, dan sampai jumpa minggu depan. Salam, Hendri Salim CEO Tech in Asia Indonesia | | | |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar